PUAN SEMESTA
Sudah dua tahun ia tak pulang ke rumahnya, ia memilih hidup menggelandang di jalan, bukan karena ia tak punya rumah ataupun kerabat, hanya saja ia tak suka klaim yang mengatasnamakan kepunyaan seperti, rumahku, anakku, saudaraku, dan kata-kata sejenisnya. Sekalipun begitu, ia tak pernah putus komunikasi dengan orang-orang di rumahnya, syukurlah keluarga mengerti kondisi perempuan yang sering disapa “Puan”. Setiap hari ia bekerja di pasar membantu para pedagang mengangkut barang, membersihkan lapak, dan menukar uang pecahan. Ia tidak pernah pusing soal makan, sebab orang-orang di pasar banyak yang bermurah hati kepadanya. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di pasar dan jalan raya, saat malam tiba ia kembali ke sebuah tempat yang ia sebut sebagai “sarang” di pinggiran sungai Milky Way, yang di sana hanya berdiri tiga rumah nelayan, satu pohon kupu-kupu dan hamparan rumput yang mulai mengering. Bagi Puan, semua hal adalah teman, maka tak jarang Puan memberikan nama pada hal yang ia sebut teman, seperti pohon yang kini menjadi sarangnya, ia beri nama Cony, entah karena alasan apa.
Hari ini Puan tidak ke pasar, ia ingin bepergian katanya, sudah lama ia tak berjumpa dengan kawan-kawannya di Aurora. Ia bersiap diri, ia kenakan jaket parkanya yang berwarna hijau pudar, celana kargo, dan sepatu kets kuning, ia juga tak lupa menggunakan kain penutup kepala, kali ini ia numpang ganti pakaian di toilet warung Uma Aji, seorang nenek yang derma, terman curhat Puan setiap pulang pasar. Puan telah siap, diambilnya tas etnik dan ransel hitamnya di atas meja makan, tak lupa ia berterima kasih kepada Uma Aji, mencium tangan, melakukan salam hormat ala Puan Semesta, yaitu dengan menunjuk mata, telinga, hidung, bibir, kepala, dan dada sembari berucap, “Dimana arah telunjuk, di sanalah rumah”. Puan berangkat dengan senyum sumringah, langkahnya ringan seperti tak berbeban.
Di jalan raya, langkahnya terhenti sejenak, pandangannya tertuju pada loper koran cilik yang bersandar di traffic light. Puan sudah lama mengenalnya, bahkan ia sangat dekat dengan bocah itu, namanya Daeng. Daeng adalah anak nelayan yang juga tinggal di pinggiran sungai Milky Way. “Kak, kak Puan!”, suara Daeng dari kejauhan. Puan melambaikan tangannya dan segera menghampirinya. “Kak, kemarin ada seorang anak laki-laki yang mencari kakak. Dia sebaya denganku, hanya saja ia bisu. Ia menitipkan kertas ini”. Jawab Puan “Lalu bagaimana kau tahu kalau dia mencariku? Dia kan bisu”, Puan bingung. “Dia menunjukkan kalungnya, terus ada nama kak Puan di situ”. Puan mencoba menyentuh ruang ingatannya, membongkar arsir-arsip kenangan, membuka berkas nama di dalam otaknya, kata kuncinya, bocah laki-laki, bisu, dan kalung nama. Belum sempat membuka lipatan kertas titipan itu, Puan sudah ingat, ia tertawa. “Oh, kakak ingat, namanya Baso. Dia itu anak yang pernah menolong kakak dua bulan yang lalu”. Puan lalu membuka lipatan kertas dari Baso. Isinya, “Kak, Aurora menunggumu”. Puan tak mengerti maksud Baso, tetapi ia yakin betul bahwa ada masalah di sana, sebab memang baru kali ini ia tiba-tiba ingin ke Aurora, seperti ada firasat. Tanpa berpikir panjang ia melanjutkan perjalanannya, Daeng memutuskan untuk menemani Puan kesana. “Kak, Aurora itu apa sih?” Tanya Daeng. “Aurora itu tempat bermain di pesisir Makaya, di sana ada sekitar 20 keluarga nelayan yang anak-anaknya senang bermain di tempat itu, termasuk Baso”. “Oh begitu, terus apa hubungannya dengan kakak?”, Daeng masih penasaran. “Dulu kak Puan sering kesana, tetapi karena kakak sibuk di pasar makanya jarang lagi kesana. Nah, si Baso itulah yang membantu kakak menjaga Aurora”, ujar Puan. “Aduh, tambah bingung. Jadi penasaran sama tempat itu, tapi kok bisa yah si Baso tahu kalau aku kenal sama kak Puan, padahal kan kami tak saling mengenal. Terus kenapa kita tidak naik angkot saja kak?, capek nih jalan kaki. Maju dong kak, kan sudah ada angkot, juga ada uang”, keluh Daeng. Puan tahu persis maksud Daeng, “Ya jelas tahu lah. Kakak pernah cerita soal kamu sama dia. Daeng, berjalan kaki ke Aurora itu sudah menjadi ritual ada banyak informasi yang akan kita dapatkan dengan berjalan kaki, selain itu, kita bisa bertemu dengan teman baru, mengakrabkan diri dengan teman lama, seperti angin, debu, kerikil, mobil, motor, tiang, tempat sampah, batu, beton, aspal, manusia, burung, pohon, dan semua yang berjiwa”. Puan keasyikan menjelaskan, ia telat menyadari bahwa Daeng tak lagi bersamanya. Ia menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang, tetapi ternyata Daeng sudah tidak ada lagi di sampingnya, Puan lagi-lagi berhenti, lalu duduk di trotoar jalan, perangainya yang tenang membuatnya tak panik akan hal itu. Beberapa menit kemudian Daeng muncul dari balik rimbun bunga pagar di pinggir jalan raya, ia keringatan, “Hm, cueknya. Kakak kenapa tidak mencariku?”, “Buat apa? Kalau cuma cari perhatian, mending telanjang saja di tengah jalan. Haha. Bocah...bocah”, ledek Puan. “Aish tidak seru ah, main petak umpet dulu lah, nanti saja kita lanjutkan perjalanan, lagipula kakak juga tidak mengerti yah kalau aku haus, lapar, capek”. Mendengar keluhan Daeng, Puan menyuruh Daeng agar duduk manis di sampingnya, “Sebenarnya kamu ini anak yang kuat, tetapi kamu terlampau sering mengeluh, kata-kata yang kamu ucapkan itu mempengaruhi apa yang kau pikirkan, juga yang kau rasakan, coba sekarang kau tenangkan dirimu”, Puan lalu mengeluarkan sebotol air putih dan sepotong roti dari ranselnya, kemudian ia berikan kepada Daeng. “Makanlah! Kelaparan harus dihentikan, sebelum kelaparan menjadikanmu malas, adik yang manis”. Daeng memandangi Puan dengan wajah penuh tanya, Puan hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepala Daeng.
Daeng melahap roti sesekali minum sambil memainkan tutup botol. “Kak selesai. Yuk kita lanjut!”, Daeng mengajak. Mereka melanjutkan perjalanan, sore telah tiba bersama lukisan langit yang mengabur, sepertinya akan turun hujan, mereka mempercepat langkah dan akhirnya sampailah mereka pada tujuan. “Selamat datang di Aurora!”, ucap Puan dengan riangnya. Daeng bermuka masam, di hadapannya hanyalah hamparan pasir dan bibir pantai yang kotor. “Tak seindah namanya”, protes Daeng. “Haha kau terlalu terburu-buru menyimpulkan dik. Sini ikut kakak!”, tiba-tiba segerombolan anak yang kira berumur 6-10 tahun berlari menghampiri Puan dan Daeng. “Kak Puan, kami rindu”, serentak mereka memeluk Puan, Daeng tercengang. “Maaf kakak baru datang, soalnya...” “Kami tahu kakak sibuk”, imbuh seorang anak perempuan berpita merah. Puan lalu memperkenalkan Daeng kepada mereka, anak-anak itu. “Kak, hari ini kita bercerita tentang apa?” Tanya Karang, anak laki-laki yang kini menjadi tulang punggung di keluarga kecilnya, setelah kepergian ayahnya setahun yang lalu. “Bercerita tentang keluarga sampah di Aurora”, “Haha”, Daeng terbahak-bahak, baginya itu sangat lucu, karena ini kali pertama ia ikut pada kegiatan Puan dan anak-anak Makaya di Aurora, ia masih butuh beradaptasi. “Keluarga sampah? Gila, sampah juga punya keluarga? Haha", Tawa Daeng semakin menjadi-jadi. “Hei, begitulah cara kak Puan mengajari kami memaknai sesuatu, sederhana bukan? Jadi tolong sederhanakan pula ketawa mu itu”, kata Cakra, anak tertua di antara anak-anak itu. Daeng diam, memegang tangan Puan, menjinjit lalu berbisik, “Kak Puan, anak-anaknya serius yah”, sambil menelan tawa. “Oh iya, Baso mana? Kenapa dia tidak ke sini?”, tanya Puan kepada anak-anak itu. “Akhir-akhir ini Baso sering menyendiri kak, dia sudah jarang bersama kami”, ucap Karang. “Kenapa?”, Puan berusaha mencari tahu kondisi Baso. Mungkin ada hubungannya dengan kedatangan seperangkat alat yang ada di dekat rumahnya kak. Dia pernah mengeluh soal itu, tetapi kami tidak mengerti. Dia aneh”, ujar Belukar. “Alat apa?”, Puan lagi-lagi bertanya sambil mengarahkan anak-anak untuk duduk. Anak perempuan berpita merah yang kerap disapa Pie mulai menjelaskan. Puan, Daeng, dan anak-anak yang lain mulai menyimak. “Dua hari yang lalu aku mendengar ayah bercerita bahwa di sini akan dilakukan reklamasi...”, anak-anak yang lain kebingungan, mereka tidak mengerti apa itu reklamasi. “Itu sebabnya alat-alat yang ada di dekat rumah Baso diadakan”. “Reklamasi itu apa sih kak?”, wajah-wajah anak pesisir itu menampakkan rasa penasaran, tubuh mereka condong ke arah Puan, kening mereka berkerut, Daeng hanya diam menyaksikan itu, mereka tegang menunggu jawaban Puan. “Haha...santai, santai, akan kakak jelaskan. Tegang amat sih, ini bukan cerita horor. Oke, kita tidak usah bercerita tentang keluarga sampah yah, lain kali saja. Nah, jadi reklamasi itu adalah pengurukan, jadi laut di sini akan ditimbun untuk perluasan daratan”. Mendengar penjelasan Puan, anak-anak itu semakin penasaran. “Wah bahaya dong kak, kalau laut di sini akan ditimbun, berarti bagaimana dengan Istana Inti Aurora? Bagaimana dengan biota laut?” Puan mulai merasa bahwa mereka belum cukup umur untuk tahu lebih dalam tentang permasalahan itu, Puan tak ingin mereka juga bersedih seperti Baso. “Waduh, sudah hampir senja, kita harus segera ke Istana Inti adik-adik, bahas reklamasinya lain kali saja yah”. Puan meminta agar Karang menyiapkan perahu, tetapi Karang tidak melakukannya, entah kenapa. “Kakak jangan menyembunyikan sesuatu dari kami. Ini tentang masa depan kita juga kak”, kata Karang. Puan memegang pundak Karang sembari berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Kalian tidak perlu panik, ayolah! Yuk kita ke Istana Inti, laut sudah tidak sabar menunggu kalian menyalakan lilin harapan disana”. Akhirnya anak-anak itu turut pada ajakan Puan. Mereka satu per satu naik ke perahu, seperti biasa, Pie selalu di ujung perahu, sedangkan Karang yang bertugas mengemudikan perahu. Perjalanan menuju Istana Inti tidak cukup lama, kurang lebih lima menit saja mereka sudah sampai di sana. Istana Inti merupakan tempat tumbuhnya mangrove yang memiliki bentuk unik menyerupai kura-kura, batang tubuhnyalah yang membuatnya serupa. Di tempat itu Puan dan anak-anak Makaya sering melakukan renungan dan berdoa kepada Tuhan. Di sana mereka menggantung toples-toples kecil sebagai tempat lilin berdiri. Sebuah tantangan, menyalakan lilin pada arena bermainnya angin laut, tetapi dengan itulah mereka belajar menjadi pribadi yang sabar dan penuh kehati-hatian. Satu per satu dari mereka mengeluarkan lilin dan korek api dari tas kecil, lalu menaruhnya di toples-toples, setelah itu suasana hening. Perahu mulai berdansa dengan riak-riak laut, sesekali digoyangkan oleh angin, mereka menutup mata, menikmati alunan suara yang berkolaborasi. Puan merasa ada yang berbeda, baru kali ini Baso tidak ikut bersama mereka. Puan merasa perlu bertemu dengan Baso, ia yakin bahwa saat ini Baso sedang membutuhkannya. “Kak Puan, kenapa melamun?”. Tanya Pie. “Hm, apa? Tidak!”, pikiran Puan melayang-layang seperti burung yang kini berdendang di atas laut menuju sarangnya. “Kalau kakak khawatir dengan kondisi Baso, setelah dari sini kita ke rumahnya saja”, ucap Karang. “Iya”, ujar Puan.
Karang mulai mendayung dan mengarahkan perahu ke bibir pantai. Sesampainya di sana, mereka lalu menjenguk Baso. Dari kejauhan, rumah Baso tampak sunyi, tetapi pintunya terbuka, hanya ada satu pelita yang menyala, rumah terapung yang sederhana itu seolah memberikan gambaran tentang kondisi orang-orang yang berada di dalamnya. Puan melepas alas kakinya, mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Tidak ada satupun yang menyahut, Puan kembali mengucap salam hingga beberapa kali, anak-anak yang menunggu terlihat gelisah. Tiba-tiba ibu Baso datang, tetapi bukan dari dalam rumah. “Bu, Baso mana?”, Pie mendekati ibu Baso. Baso, Baso, Baso...”, ibu itu ragu-ragu menjawab, lalu ibu itu memeluk Puan. “Nak, Baso hilang!”. Mendengar kabar itu, Pie menangis, Daeng bingung, Karang mematung, sedangkan Belantara dan anak lainnya menghela nafas panjang. Puan menenangkan diri. Ia merasa bersalah. Ia baru ingat bahwa dirinya pernah berjanji kepada Baso, kalau ia akan kembali ke Aurora sebulan setelah pertemuannya yang terakhir, maka dari itulah Puan memberikan kalungnya kepada Baso sebagai jaminan atas janjinya, namun kesibukan Puan membuat hal itu terlupakan.
Waktu itu, Puan secara tidak sengaja bertemu dengan Baso di pasar, saat itu Puan sedang mengangkut barang, dan Baso secara tiba-tiba datang membantunya. Mereka lalu berkenalan dan bercerita tentang banyak hal, termasuk kecurigaan Baso akan adanya reklamasi di Pesisir Makaya, saat itulah Puan kagum kepada anak itu, baginya Baso adalah seorang anak yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, melebihi sebagian orang-orang dewasa yang sibuk berias diri, saling menghujat, dan saling menjatuhkan. Baso lah yang memperkenalkan Puan dengan anak-anak Makaya. “Maaf dik, kakak lupa. Kau pasti sangat kecewa”, gumamnya. Ibu Baso masih dalam keadaan bersedih, Puan mencoba menenangkannya, ia tahu betul bahwa kepedihan itu jelas terasa oleh ibu Baso. Baso adalah tulang punggung di keluarganya, setiap hari ia bekerja di pelabuhan, bekerja apa saja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Umurnya masih 10 tahun, dengan kerja keras yang ia lakukan tidak menunjukkan bahwa ia adalah anak biasa, ia anak yang luar biasa.
Waktu tak punya kaki, tetapi mampu berjalan meninggalkan kenangan. Sudah tiga hari Baso tak pulang. Puan, Daeng, dan anak-anak Makaya sudah berusaha mencarinya, namun hasilnya nihil. Puan memutuskan untuk kembali ke sarangnya di Milky Way, ia pamit kepada ibu Baso dan kepada anak-anak Makaya. Langkahnya berat, di sampingnya ada Daeng yang berusaha menghiburnya, tetapi Puan masih saja bungkam. “Sebenarnya kakak itu anak yang kuat. Hanya saja kakak terlampau sering menyalahkan diri sendiri”, Daeng menyindir. Puan menghentikan langkahnya, ia tersenyum lalu menarik kuping Daeng dengan lembut seraya berkata “Oh, kamu sudah berani meledek kakak yah. Dasar bocah, haha”. Puan dan Daeng tertawa terpingkal-pingkal. 1, 2, 3, akhirnya mereka sampai di Milky Way. Belum masuk ke dalam rumah, ibu Daeng mengomel, suaranya yang cempreng meletup-letup di telinga Puan dan Daeng. Lagi-lagi Puan merasa bersalah. Daeng dipukuli ibunya dan saat itu Puan tidak bisa membelanya. Sebab ia tak tahu harus bagaimana. Daeng menangis bukan main. “Ibu sudah pernah bilang, jangan bergaul dengan perempuan jalan ini, apa kamu tidak kasihan pada ibu? Ibu tahu kamu pergi saja, ibu khawatir, apalagi tidak”. Ibu itu berapi-api, amarahnya tak terbendung lagi. Ia memaki-maki Puan. Ada satu pernyataan yang membuat Puan menitihkan air mata, “Tidak ada satupun orang yang tahu asal-usulmu, entah dari rahim perempuan siapa. Jangan kau bawa anakku menggelandang sepertimu, menjijikkan. Tidak ada yang tahu juga dengan siapa kau tidur di jalan-jalan”. Mendengar perkataan itu, Puan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan-lahan, bibirnya bergetar, hujan air mata menerpah lekuk pipinya tanpa suara. Desir aliran sungai mendukung suasana. Puan seperti tak mampu berkata-kata. Matanya yang tajam bak elang menatap ibu Daeng yang kini mendewikan diri. “Perempuan jalan, perempuan jalang, sialan”. Ibu itu sangatlah sarkastis, Puan tidak tahan lagi. “Cukup! Aku tidak akan melakukan pembenaran terhadap diriku, aku tak ingin pula membenarkan perkataan ibu. Jika ibu berprasangka buruk kepadaku, cobalah seumpama sehari saja ibu mengikuti aktivitasku”. Puan lalu meninggalkan mereka. Puan kembali ke sarangnya, ia kelelahan. Ia merebahkan tubuhnya di bawah pohon. Ada yang melemparnya dengan kacang dari atas pohon. Puan terkejut. Tiba-tiba ada Baso di sampingnya. Spontan, Puan memeluk Baso. “Baso, kamu dini. Kamu dari mana saja?”. Puan sangat senang melihat kehadiran Baso. Baso hanya tersenyum sambil memandangi Puan yang tiba-tiba lupa akan masalah tadi. Matanya berkaca-kaca. Mungkin saatnya aku menampakkan diri di hadapan Puan, sebab Baso tentu tidak bisa menjelaskan apa-apa karena ia bisu. Akulah yang membawa Baso ke sarang Puan, akulah yang menyebabkan Baso hilang beberapa hari ini. “Salam”. Aku memberanikan diri menghampirinya. Ia belum tahu siapa aku. Sebenarnya aku takut ia marah jika tahu bahwa aku sering membuntutinya. Tetapi aku harus jujur. “Kamu siapa?”, pertanyaan itu membuatku ragu. “Semesta”, jawabku tegas sambil mengirit senyum. Ia mempersilahkanku duduk, Baso berpindah ke sampingku. “Kalian sudah saling mengenal?”, tanyanya. “Iya. Puan aku ingin mengatakan sesuatu”, Puan tertawa. “Santailah, tanpa memberitahukanku pun kau sudah mengatakan sesuatu dari tadi”. Aku tiba-tiba grogi dibuatnya. “Oh, iya kenapa kau bisa tahu namaku?”. Aku belum bisa menjawab. “Halo, Semesta! Jawab!. Aku harus mengakui bahwa dia perempuan pertama yang membuatku kelihatan bodoh seperti ini. “Ya sudah, tidak usah dijawab, aku capek, aku baring yah, santai saja”. Ia seolah sudah mengenalku sejak lama. Aku bingung harus bagaimana memulai pembicaraan yang kurencanakan tadi. “Puan, aku hanya ingin menyerahkan ini padamu”. Sebuah catatan kecil ia terima. “Sejak melihatmu beberapa bulan yang lalu, aku penasaran dan mengikuti keseharianmu. Aku mendokumentasikan semua itu di catatan yang sekarang kau pegang itu”. Wajah Puan datar-datar saja. Mungkin ia tidak suka. “Maaf Puan jika hal itu membuatmu tidak senang, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh”, ucapku sambil bergegas meninggalkan Puan dan Baso. Tiba-tiba ia memanggilku dengan panggilan yang sangat akrab di telingaku. “Sta! Uma Aji sering memanggilmu seperti itu kan?. Aku heran, kenapa ia bisa tahu hal itu. Aku ingin kembali di hadapannya, tetapi aku malu. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat dan sangat jelas Puan meneriakkan sesuatu yang tak terduga, “Aku pun sering mengikutimu tapi tak seserius kau mengikutiku”.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar